Posted by: marioindra | July 21, 2010

Sayonara Afrika, in memoriam World Cup 2010

Tanggal 21 Juli 2010 Jakarta,

Saya membayangkan suasana hati Johan Cruyff seperti kata-kata Simone de Beauvoir dalam Old Age (La Viellese): “Ada jalan-jalan di Uzervhe, Marseilles, dan Rouen tempat aku bisa menggembara, mengenali kembali rumah-rumahnya dan batu-batu itu; namun takkan pernah kutemukan kembali rencana-rencanaku, harapan dan ketakutanku…”

Masa lalu, kejayaan yang silam, memang masih menyediakan sejenak ruang untuk bernostalgia — setapak ziarah. Dan bagi Cruyff, itu hanya berarti mengenang kembali Piala Dunia 1974 ketika ia membawa De Oranje ke babak final. Lebih mengharukan lagi, mungkin dengan cara memutar kembali rekaman-rekaman pertandingan sembari ditemani secangkir kopi panas.

Cruyff, tak bisa dipungkiri adalah pemain terbesar Negeri Kincir Angin. Ia bukan saja seorang eventful man tetapi juga event-making man menurut klasifikasi Sidney Hook dalam The Hero in History pada pesepakbolaan Belanda. Bersama Johan Neeskens, Johny Rep, Rob Resenbrink, Rud Kroll, dan Arie Haan, ia membuat para pengamat bola di seantero dunia tercengang pada pola dan kualitas permainan total football yang diperagakan oleh tim Oranye. Kendati Belanda harus puas sebagai runner up setelah kalah 2-1 dari Jerman Barat, nyaris semua media kala itu menyebut total football sebagai sebuah revolusi dalam sejarah permainan sepakbola.

Karena itulah, bisa dimaklumi kekecewaan Cruyff ketika permainan bola cantik-brilian ini menghilang dari penampilan-penampilan Belanda pada Piala Dunia 2010.

“Terus terang, saya saat ini mendukung sepakbola indah daripada sepakbola yang mengedepankan hasil akhir belaka. Sayang, pandangan semacam itu sekarang tak dimiliki pelatih van Marwijk. Dia menekankan tim Belanda bermain dengan mengutamakan penguasaan bola dan lebih sabar dalam membongkar pertahanan lawan,” sungutnya sebelum Belanda berhadapan dengan Brasil di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elisabeth, 2 Juli lalu.

Tetapi toh, sebutan from zero to hero barangkali memang pantas disandang oleh van Marwijk. Di tangan dingin mantan pemain Fortuna Sittard ini, Belanda yang datang ke Afrika Selatan bukan sebagai tim unggulan berhasil melaju ke babak final setelah 32 tahun. Bayangkan, 32 tahun setelah Belanda takluk 3-1 dari tuan rumah Argentina pada final Piala Dunia 1978! Meski tanpa Cruyff yang menolak hadir di Argentina selepas insiden kekerasan menimpanya di Barcelona, solidnya total football yang dimainkan tim Oranye saat itu hanya digagalkan satu orang, Mario Kempes. Tak heran konsep permainan ini pun dianggap sebagai sebuah inovasi paling berharga di dunia sepakbola yang membuat sepakbola enak ditonton, menghibur dan tidak menjemukan.

Senjakala sepakbola indah

“FOOTBALL is the most beautiful and healthiest sport in the world. That one makes a mistake doesn’t mean football has to pay for it; the ball doesn’t get dirty,” kata Diego Maradona.

Tidak mudah memang menjelaskan konsep yang ditemukan oleh Rinus Michel saat menangani klub Ajax Amsterdam, dan kemudian diterapkannya pada timnas Belanda ketika menjadi pelatih tahun 1974 ini.

Secara sederhana, Totaal Voetbal (bahasa Belanda) mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah konsep sepakbola menyerang di mana setiap pemain dapat mengambil alih peran pemain lainnya dalam mobilitas pergerakan tinggi, dari satu posisi ke posisi lainnya secara rotatif. Semua defender adalah striker, dan semua striker harus menjadi defender dengan berpegang teguh pada skema 4-3-3. Dalam kondisi terburuk, teori ini juga mengajarkan man to man marking dan zona marking secara ketat.

Menurut David Winner dalam bukunya Oranye Brilian, total football sesungguhnya adalah pengejawantahan “psyche” orang Belanda dalam memahami kehidupan. Kondisi alam telah memaksa bangsa Belanda secara intrinsik menjadi bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan). Maka di lapangan sepakbola, total football pun berupaya menciptakan ruangan seluas mungkin, lalu mengeksploitasinya secara total. Sehingga di sini, sepakbola menjadi sebuah hiburan dari pendekatan totalitas itu.

Tetapi toh Bert punya alasan memilih sepakbola pragmatis meskipun harus menuai kecaman lantaran meninggalkan gaya bermain yang telah dianggap sebagai pakem sepakbola Belanda. “… kenyataan yang ada kini, orang-orang makin bugar, organisasi permainan juga makin baik. Karena itu, jika Anda bermain dengan gaya seperti dulu, akan sulit memenangi Piala Dunia,” ujarnya kalem.

Pemikiran yang sama menjadi keputusan pelatih Brasil Carlos Dunga meninggalkan jogo bonito, sehingga gaya Samba — seni sepakbola memukau yang lahir dari tradisi jalanan dan tepi pantai itu — ikut lenyap dari stadion-stadion Afrika Selatan. Padahal jogo bonito sudah dianggap sebagai identitas bangsa yang bertabur pemain berbakat istimewa di mana Piala Dunia adalah panggung utama yang selalu disambut dengan antusiasme luar biasa.

“Hari ini Brasil memainkan gaya yang mengkhianati kultur kami,” demikian tukas Socrates, gelandang Seleccao — julukan Brasil — era 80-an meradang. Seperti Cruyff, Socrates pun membenci pragmatisme Dunga menyisihkan pesona sepakbola meliuk-liuk negerinya.

Apa boleh buat. Kita mau tak mau harus mengucapkan sayonara pada falsafah keindahan sepakbola. Seperti halnya kita ucapkan sayonara buat Afrika Selatan yang telah sukses menggelar perhelatan olahraga dengan umat terbesar sejagat ini di Benua Hitam untuk kali pertama.

Sepakbola adalah drama, terdiri dari banyak potongan kisah dan fragmen yang diperankan para aktornya di dalam maupun di luar lapangan rumput: konflik, kepentingan, egoisme, kepahlawanan, jiwa besar, optimisme, suka-duka, rasa bersalah, dan fanatisme.

“Hidup ini hanya mempunyai satu pesona, yakni permainan. Pesona permainan hidup tak dapat membuat kita acuh tak acuh, ia selalu bertanya, maukah kamu menang atau kalah?” kata Charles Baudelaire. Dengan kata lain, kemenangan juga bagian dari keindahan permainan.

Karenanya Afrika Selatan pun melahirkan banyak kisah haru-biru terkait soal gol sebagai tujuan sepakbola ini: tim-tim unggulan tersingkir dini (Italia, Prancis, Inggris), bintang-bintang baru yang sebelumnya tak diperhitungkan (Thomas Muller, Dos Santos, Diego Forlan) bermunculan, para calon top skorer yang ternyata tak mencetak satu gol pun (Messi, Fernando Torres, Wayne Rooney), juga Jabulani si kulit bundar produk Adidas yang kontroversial.

Bahkan dari luar lapangan hadir selebritis baru yang cukup menggemparkan: Paul si Gurita dari akuarium Sea Life di Oberhausen, Jerman! Popularitas Paul tiba-tiba melejit sejak ramalannya atas hasil pertandingan yang selalu tepat, sampai pada kemenangan Spanyol atas Belanda di babak final. Binatang ini lantas menjadi trending topic nomor satu di dunia di Twitter dengan sebutan “Pulpo Paul”. Bahkan keakuratan ramalannya sempat membuat nyawanya terancam. Di Facebook maupun Twitter bermunculan komentar yang mengancam akan memanggangnya gara-gara ramalan tepatnya menyakitkan rakyat Jerman. “Yang lain ingin melemparnya ke dalam tanki ikan hiu,” tulis harian Jerman, Der Western.

Ramal-meramal ini memang tampak marak selama perhelatan Piala Dunia berlangsung di Afrika Selatan. Kecewa dengan prediksi Paul, orang Belanda pun bertanya pada Pieter sesama cumi dari Antwerp yang akhirnya memenangkan negerinya. Selain itu juga terdapat parkit Mani dari Singapura, Babi Rozijntje, Pino simpase dari Estonia, hingga si Mamat, gurita dari Sea World, Jakarta. Adapun mentalis Deddy Corbuzier melengkapi gegap gempita ini dengan kode “NCI253HZ6″ dan kotak ramalan tersegel yang tergantung tinggi di Electronic City.

Alhasil, sepakbola menjelma jadi drama komedi. Menggelikan, tetapi inilah fenomena Piala Dunia 2010. Dan tepat atau tidak, toh Belanda kembali menjadi juara tanpa mahkota untuk ketiga kalinya tanpa Anda harus mempercayai kutukan. Stadion Soccer City melahirkan juara dunia baru lewat gol Andres Iniesta di menit 117: La Furia Roja — sebutan Spanyol — menang 1-0. Apa kata Johan Cruyff?

“Saya orang Belanda, tapi saya mendukung gaya yang dimainkan Spanyol,” tukasnya. Ya, buat Cruyff, sepak bola memang permainan yang harus dijalani seperti cara ia dulu bermain, dengan keindahan total football. Tentu ia tak sendirian. Kepada mingguan Die Zeit sebelumnya, Cesar Louis Menotti (71 tahun) pelatih legendaris Argentina mengungkapkan: “Jika bola hanya berkenaan dengan hasil akhir, apa gunanya kita bermain? Cukup kita melempar keping koin di lapangan untuk tentukan siapa pemenangnya. Penonton sungguh ingin melihat permainan karena mereka mencintainya.”

Cruyff, Socrates, dan Menotti tak salah merindukan sepakbola indah yang membuat lapangan jadi panggung hiburan lebih meriah. Terlepas dari ujar-ujar “orang tua hanya memiliki masa silam” atau respon Dunga bahwa Cruyff adalah orang tua yang tak pernah mempercayai generasi sesudah mereka.

Masalahnya, revolusi 1974 telah lama padam. Sebagaimana dikatakan mantan pemain Belanda, Edgar Davids, sepakbola seperti kehidupan, tak ada yang statis, demikian pula total football. Para pelatih kini lebih suka mengamalkan kata-kata Jean Paul Sartre bahwa “In football everything is complicated by the presence of the opposite team”.

Untuk ini, Simone de Beauvoir menulis: “Masa lampau bukanlah sebuah panorama damai yang terbentang di belakangku, sebuah negeri yang bisa kutempuh lagi bila kuingin, yang akan menunjukkan padaku, berangsur-angsur, bukit dan lembah-lembahnya yang rahasia. Sewaktu aku bergerak ke depan, masa lampau itu pun runtuh. Sebagian besar reruntuhannya, yang masih dapat terlihat, tak punya warna, mencong bentuknya, dan beku: makanya lepas dari diriku.”

Kata-kata penulis “Second Sex” itu agaknya memang cocok menggambarkan kemuraman hati seorang Cruyff hari-hari ini di Afrika Selatan. Termasuk apabila kita mengaitkan ikatan emosi bekas kapten Ajax ini dengan La Furia Roja setelah menjadi pelatih Barcelona selama 1988-1996 dengan sederet tropi dalam sejarah klub tersebut. Dan saya bayangkan ia bersepeda menyusuri jalan-jalan kota Barcelona sembari mengenang musim-musim kompetisi di masa jayanya.

Ah, kini memang era sepakbola praktis. In Memoriam sepakbola indah.

Posted by: marioindra | July 13, 2010

WORLD CUP 2010: Antara Euphoria dan Cita-cita

Tanggal 12 Juli 2010.

Hari ini adalah pertandingan final Piala Dunia 2010 yang sudah berlangsung dari bulan Juni, Belanda Vs Spanyol adalah dua negara terakhir yang bertanding untuk menjadi juara dan mendapatkan Piala Dunia tersebut. Permainan berlangsung sangat sangat sengit…90 menit pun berlalu dan kedudukan skor masih 0 – 0 untuk kedua negara, dan alhasil pertandingan pun dilanjutkan dengan additional time 20 menit(10 menit – 10 menit), pada babak pertama di additional time pun kedua negara masih sangat kuat dan belum ada Gol yang tercetak, pada akhirnya babak pertama additional time pun berakhir dan dilanjutkan dengan babak kedua additional time, dan pada akhirnya Andreas Iniesta pemain dari Spanyol berhasil mencetak Gol di menit-menit terakhir dan bisa membawa kemenangan bagi Spanyol dengan skor 1 – 0, Kapten kesebelasan Timnas Spanyol Iker Cassilas pun menangis bahagia karena Tim nya bisa mencetak sejarah bagi Spanyol.
Euphoria pun mulai bergemuruh dari Spanyol, baik dari Tim kesebelasan dan supporter yang masih berada di Stadion Soccer City Afrika maupun bagi rakyat Spanyol yang berada di Negaranya, bahkan Gemuruh Euphoria pun datang dari Indonesia, karena semua orang(termasuk gue) bersorak-sorak senang karena tim yang kita support bisa menjadi Juara Piala Dunia 2010 apalagi pada saat Iker Cassilas sebagai kapten kesebelasan Timnas Spanyol dengan bangga nya mengangkat Trofi Piala Dunia di depan semua penonton.

Waktu terus berlalu namun euphoria belum pun reda, tapi diantara semua orang yang tetap ber-euphoria perlahan-lahan gue bisa merasakan kekecawaan para pemain Belanda yang tampak sangat sedih dan terpukul karena mereka LAGI-LAGI GAGAL untuk bisa menjadi juara Piala Dunia di tahun ini, gue sangat tahu apa rasanya GAGAL UNTUK KESEKIAN KALINYA meraih apa yang udah kita CITA-CITAKAN padahal kita sudah secara maksimal mengeluarkan kemampuan kita, karena gue pun merasakan hal yang sama di Tahun ini.

Mungkin Tuhan memang punya rencana lain buat kita semua yang sudah mengalami kegagalan. Kita memang harus berusaha keras untuk bisa lepas dari kesedihan atas kegagalan yang menimpa kita berulang-ulang, tapi bagaimanapun hal itu bukanlah hal yang mudah dan gue tau bagaimana susahnya berjuang untuk itu…, setiap sedang sendiri segala ingatan tentang kegagalan yang sudah terjadi selalu masuk lagi kedalam pikiran, rasa iri yang mendera, malu yang ditanggung, seakan-akan impian yang hanya tinggal selangkah lagi tiba-tiba menjauh ribuan kilometer, dan yang tersulit adalah memulai segalanya dari NOL lagi.
Seberapapun tegarnya manusia dalam menghadapi kekalahan tetap dibutuhkan kesabaran yang tinggi serta jiwa yang besar untuk bisa memulai segalanya dari NOL lagi, dan yang gue tahu tidak semua orang punya kepribadian seperti itu…

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, segala hal baik atau buruk, senang atau sedih, gagal atau sukses adalah warna warni kehidupan seorang manusia…jadi semuanya adalah tergantung bagaimana manusia itu menghadapinya, susah memang menerima suatu kegagalan dengan lapang dada, namun kita harus tetap bertahan dengan segala impian kita untuk tetap sabar, kuat dan terus berusaha dalam meraihnya.
Satu hal yang paling penting namun sering terlupakan adalah bahwa kita harus selalu bisa berpasrah diri pada Tuhan yang maha kuasa dalam berusaha, karena segala yang terjadi pada kita sebenarnya sudah ditentukan dan hanya orang-orang yang sabar dan mau terus bangun dari kegagalan lah yang bisa merubah nasibnya ke arah yang lebih baik. Percayalah bahwa Allah selalu bersama kita, dan dia pasti sudah merencakan kejutan yang lebih baik lagi untuk kedepannya. Karena itu berusahalah untuk terus berusaha dan sabar, sabar, sabar…
Semoga Allah selalu bersama kalian yang bersabar dan berusaha…Amiienn!!

Posted by: marioindra | June 22, 2010

Looking to the Future on Jakarta’s Birthday

Celebrating its 483rd anniversary on Tuesday, Jakarta may be battered — by pollution, a history of strife, strained infrastructure — but it remains the nation’s beating heart. Looking for opportunity, education, employment and a better life, masses of people head for Jakarta. The city is a magnet for the hopeful and the place where the well-connected build and maintain their empires.

It must always have been so. Originally a trading por t on the Ciliwung River, it was home to the last Hindu kingdom of West Java in the early 1500s. The founding date, June 22, 1527, marks the victory of the Muslim leader Sunan Gunungjati, fighting as Fatahillah, over the kingdom of Sunda Kelapa and its Portuguese allies. He renamed the city Jayakarta, “victorious city.” Later fought over by the British and the Dutch, it became Batavia when the Dutch colonizers sought to create an Amsterdam in the tropics.

And Jakarta was, of course, the crown jewel of a new nation after independence. Always home to a multicultural mix of peoples, Jakarta is Betawi and Javanese and every other culture of these islands. It is Chinese and Indian and even European. It is the symbol of Indonesia’s long struggle for a tolerant and open society.

Fireworks have already marked the beginning of a month-long Jakarta Great Sale taking place to mark the birthday in the city’s shopping malls. There are street fairs, athletic events and cultural activities planned.

Some residents are also pausing to consider the city’s sometimes cruel past. The Wisata Masup Jakarta group has organized a walking tour of old Jakarta to remember the massacre and banishment of Chinese residents there by the colonial government in the 1740s.

Despite anti-Chinese violence in 1998, in today’s Jakarta, ethnic tensions seem largely a relic of a distant past. The city is at peace and facing a great many issues with relative unity.

“My hope lies in Jakarta’s residents,” Jakarta Governor Fauzi Bowo told the Jakarta Globe. “Don’t just grumble… Try to think of positive contributions you can make for Jakarta.”

Taking the occasion of the anniversary to imagine a better future for our dynamic but environmentally fragile city, we try to articulate that vision with a special section titled Green Jakarta.

Our reporters found everyday citizens who are responding to Fauzi’s message. Whether through local recycling efforts or the kind of life-saving work that Irwansyah, a neighborhood head in the riverside slum of North Petojo, has undertaken to bring basic sanitation to his community, there is no doubt that Jakartans are pitching in to build a better city.

The struggle for the city over its next many birthdays will be to harness the resources, creativity and talent that have made Jakarta one of Asia’s great cities to also make it livable and sustainable.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted by: marioindra | April 21, 2010

Ya Allah…

Ya Allah, engkaulah yang Maha Mengetahui Segalanya, karena itu aku tahu bahwa Engkau tahu apa yang ada dalam pikiran dan hatiku ini…

Ya Allah, aku memohon dengan sangat kepadamu dari lubuk hatiku yang paling dalam agar engkau membantuku dalam mencapai impian, harapan dan cita-cita yang sedang kukejar dari sejak lama sampai sekarang ini Ya Allah…

Ya Allah, berikanlah aku selalu petunjuk-Mu serta hidayah-Mu agar aku bisa mengetahui langkah apa yang harus aku ambil dan aku jalani agar impianku tercapai…

Ya Allah, engkaulah Yang Maha Mulia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jadikanlah aku hamba-Mu yang bisa memiliki kepribadian yang mulia serta penuh kasih dan sayang dan jauhkanlah aku dari sifat sombong yang akan membawa aku kedalam kehancuran kelak…

Ya Allah, tiada tuhan selain diri-Mu yang ku imani dan kupercaya sebagai Sang Maha Pencipta Yang Maha Kekal dan Maha Tunggal Yang Maha Berkuasa atas langit dan bumi serta segala isinya, hanya padamulah Ya Allah aku memohon dan berdoa selalu, karena hanya Engkaulah Ya Allah yang bisa merubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan sungguh ilmu yang kami miliki sebagai manusia tiadalah artinya dengan Ilmu yang Engkau Miliki, karena itu dengarkan segala Doa-ku ya Allah Yang Maha Mendengar serta lihatlah aku Ya Allah Yang Maha Melihat, berikanlah aku selalu segala pertolongan-Mu dalam setiap kesulitan yang terkadang datang secara tiba-tiba dan berikanlah aku keringanan atas segala beban-bebanku…

Ya Allah, aku mengerti bahwa setiap cobaan yang engkau berikan adalah sebagai pelatihan agar aku bisa menjadi tangguh dalam hidup ini, tapi sungguh Ya Allah tiada artinya kemampuan serta daya-ku sebagai manusia tanpa adanya kekuatan yang datang darimu Ya Allah yang Maha Perkasa, karena itu berikanlah aku selalu senantiasa kekuatan lahir dan bathin agar aku bisa menjadi tangguh secara luar dan dalam, serta dekatkanlah aku selalu dengan orang-orang yang bisa memberikan kekuatan positive kedalam diriku agar aku bisa menjadi percaya diri dalam melakukan hal-hal baik selama hidupku ini…

Ya Allah, sungguh tiada tuhan selain diri-Mu yang patut di-imani dan disembah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul utusan-Mu yang bertugas membawa kabar serta berita baik kepada kami semua umat manusia yang melangkah dijalan kegelapan dan sering terjerumus kedalam lembah nafsu dan dosa, karena itu berikanlah Beliau, Keluarga Beliau serta Sahabat-sahabat Beliau segala ampunan-Mu serta Maaf-Mu dan berikanlah Beliau, Keluarga Beliau serta para Sahabat tempat yang terbaik di sisi-Mu di akhirat sana Ya Allah, dan berikanlah kepada orang-orang yang kami sayang serta cintai yang telah lebih dahulu menghadapmu segala ampunan-Mu Ya Allah, bukakanlah Pintu Surga-Mu yang selebar-lebarnya untuk mereka, dan berikanlah kami yang masih hidup selalu segala Ampunan-Mu, Cintailah dan Bahagiakanlah juga Kedua orang tua kami Ya Allah, karena mungkin sampai saat ini kami masih belum bisa membahagiakan dan membalas segala cinta kasih mereka dengan bakti kami, berikanlah Ampunan-Mu serta berikan segala Rezeki, Kesehatan, Kemakmuran dan Kesejahteraan hidup dunia-akhirat untuk mereka Ya Allah…

Padamulah aku berdoa dan memohon selalu untuk segala kebaikan dunia-akhirat, Maha Besar dan Maha Suci Engkau Ya Allah YANG MAHA ESA.

Dengarkanlah doa hamba-Mu yang rendah dan penuh dengan dosa ini Ya Allah, berikanlah kedamaian selalu kepada kami, dan jadikanlah kami orang selalu senantiasa bersyukur kepadamu…

rabbana atinna fidun’ya khasanah wa’afil aakhirati khasanah wakinna azabanar…

Aminn Ya Rabbal Alamin.

Posted by: marioindra | April 8, 2010

From DISNEY we Learned

 Why was Snow White given an apple with poison  ?
To show that not all people are as kind as what they pretend to be.

 Why did Cinderella have to run away when the clock stroke midnight *…* ?
To remind us that everything has limitations even dreams.

 Why did Ariel decide to exchange her fins with feet  ?
To show that anyone is willing to give up anything just to be happy.

 Why did Beauty get in love with the Beast  ?
To show us that Beauty is NOT everything , we have to look at the Personality 1st :D !

So true!! ♡ ♥.

19 November 2009 22:29

Masalah paling sering yang dihadapi BB kita semua adalah MEMORY. Yang bikin BB kita lemot-lambat, jam pasir, ga bisa masuk website dll. MEMORY disini saya maksud adalah ‘volatile memory’ ya (semacam RAM di PC). Bukan ’storage memory’ seperti media card contohnya.

‘Sampah’ memory ini bisa diakibatkan dari :
1. Conversation yang tidak ditutup (BBM, YM yang dibiarkan ‘open’). 2. Memori ‘history’ website2 yang dikunjungi browser.
3. Memori ‘log event’ (‘rekord’ otomatis dari ‘event’2 di BB-nya). 4. Terlalu banyak buka aplikasi bersamaan.
5. ‘Cookies’, ‘Cache memory’, yang mempercepat proses tapi menghabiskan memori.

Ada baiknya kita mengetahui cara2-nya selain cabut batere. Kita mulai dengan BB anda di posisi ‘desktop screen’

(1). CACHE CLEANING.
Bersihin ‘cache memory’ browser BB:
1. Masuk/ klik ke browser.
2. Tombol BB menu – klik.
3. Pilih : ‘Options’ – klik.
4. Pilih ‘Cache Operations’ – klik.
5. Klik ke 4 tombol ‘clear’ (termasuk ‘clear history’).
6. Termasuk ‘Yes’ untuk ‘delete pushed content’.
7. Selesai.

(2). EVENT LOG CLEANING.
Bersihin rekord dari ‘event’/proses di BB.
1. Dari desktop (lagi), pencet tombol ALT (tahan).
2. Pencet huruf L-G-L-G (berurutan).
3. Kemudian BB menu – klik.
4. Pilih ‘clear log’ – klik.
5. ‘delete’ – klik.
6. Selesai.

(3). MEMORY CLEANER.
1. ‘Options’ – klik.
2. ‘Security Options’ – klik.
3. ‘Memory Cleaning’ – klik.
4. Status ‘disabled’ di klik.
5. Pilih ‘enabled’.
6. Lalu 4 baris dibawah menu ‘memory cleaning’, Ada ’show icon on home screen’ klik jadi ‘Yes’. 7. Tekan tombol ‘return’ dan ’save’ changes.
8. Kembali ke ‘homescreen’ dan cari ikon baru ‘memory cleaner’. 9. Gambar ikon-nya, mirip2 printer gitu, nah klik!
10. Selesai.

Catatan :
Ikon memory cleaner akan ada di homescreen, silahkan klik kapan saja anda perlu bersihin memory.
Ikon tsb. ada selama BB anda tidak di restart. Kalau di-restart, maka kita akan ‘keluar’kan dia dengan cara seperti diatas.

(4). RESET :
Tekan bersamaan ‘Alt’ – ‘Caps’(kanan) – ‘del’Ini namanya restart (reboot kalo di PC), ada yang bilang ’soft reset’.

(5). CABUT BATERE :
Dengan ‘cabut batere’, kita benar2 memastikan tidak ada energi/listrikyang tertinggal. Karena dengan tidak adanya listrik, otomatis yang namanya‘volatile memory’ (memory ada jika ada suplai listrik) akan hilang.
Ketika cabut batere, minimal 30 detik, baru kita pasang lagi yaa. Kenapa? Ketika batere dicabutpun, masih ada ’sisa’ tenaga listrik di HH yangakan redup/padam perlahan2. Jika ’sisa’ tsb. belum hilang, dan kita pasangbatere lagi, nyuss, ’seger’ lagi dia dan ‘memory sampah’-nya ga jadi ilang.

Cabut Batere juga bisa digantikan dengan Aplikasi QuickPull (walaupun tetap lebih manjur Cabut batere): http://kombb.wordpress.com/2009/10/16/quickpull-v3-5-0/

Posted by: marioindra | January 15, 2010

Gerhana Matahari

Gerhana matahari yang terjadi Jumat (15/1) esok diperkirakan mulai berlangsung pukul 14.33 – 15.55 WIB di langit Bandung. Tapi di langit Jakarta, waktnya akan be rgeser. ” Gerhana di Jakarta antara pukul 14.33 – 16.00 ” kata Thomas Djamaludin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional di Bandung, Kamis (14/1).

Perkiraan waktu terjadinya gerhana ini adalah hasil simulasi gerhana dengan stelarium yang dilakukan di Observatorium Bosscha Lembang, Bandung.  Stelarium adalah perangkat  lunak yang juga bisa diunduh di internet.

Dari simulasi itu, menurut peneliti Observatorium Bosscha, Mochammad Irfan, gerhana matahari cincin terlama nanti terletakdi perairan Samudera Hindia. Persisnya di koordinat Lintang Utara 1 derajat 36 menit dan Bujur Timur 69 derajat 18 menit. Berlangsung mulai pukul 12.01-16.12 WIB, puncak gerhana matahari cincin itu terjadi pukul 14.06 WIB.  Presisi ini, kata Irfan, nyaris sama dengan data di situs NASA.

Posted by: marioindra | January 14, 2010

Bui Mewah Artalyta

BUI tidak lagi seram dan menakutkan. Kini, penjara sudah berubah wajah seiring bersalin nama menjadi lembaga pemasyarakatan (LP). Penjara sudah menjadi hotel dalam pengertian yang sebenarnya. Ada fasilitas sofa empuk, kulkas, pendingin ruangan, dan tentu saja televisi serta telepon seluler. Bahkan ada pula tempat karaoke.

Fasilitas itulah yang ditemukan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum ketika melakukan inspeksi mendadak ke Rutan Pondok Bambu, Minggu (10/1). Adalah Artalyta Suryani, terpidana kasus suap Rp6 miliar kepada jaksa Urip Tri Gunawan, yang menikmati fasilitas itu. Dia telah menyulap ruangan tahanan menjadi kantor mewah. Dari sel seluas 8 x 8 meter itulah dia rutin mengadakan rapat bisnis dengan anak buahnya. Itu sangat kontras dengan puluhan tahanan lain yang berjejal dalam ruangan sempit seperti sarden.

Artalyta memang istimewa. Kala masih bebas, dia pun leluasa menemui pejabat dan mengundang mereka menghadiri pernikahan anaknya. Dia juga leluasa menelepon dan bahkan bisa mengatur-atur para pejabat. Keistimewaan itu dibawa ke penjara. Di bui pun Artalyta tetap menjadi orang penting alias VIP.

Dia bisa mendatangkan dokter spesialis perawatan kecantikan. Meski telah memperoleh kekuatan hukum tetap dari Mahkamah Agung dengan hukuman penjara lima tahun, Artalyta alias Ayin tetap boleh tinggal di rutan. Bukan pindah ke penjara atau LP. Tentu saja Artalyta bukan orang pertama yang menikmati fasilitas mewah di penjara. Ada nama Eddy Tansil, pengemplang uang negara sebesar Rp1,3 triliun, pun pernah menikmati fasilitas mewah di LP Cipinang sebelum kabur. Juga ada Nurdin Halid yang sampai bebas tetap tinggal di Rutan Salemba tanpa pernah pindah ke LP.

Fasilitas selalu dekat dengan uang dan kekuasaan. Terpidana yang tidak memiliki uang akan ditumpuk dalam ruangan sempit. Penjara mewah Artalyta mencerminkan wajah diskriminatif pemerintah, khususnya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Dirjen LP, dan Kepala Rutan Pondok Bambu. Di saat Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar sedang gencar melakukan sidak ke penjara di berbagai kota, ternyata diskriminasi terjadi di depan hidung.

Temuan tim Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum menunjukkan sekali lagi bahwa penjara menjadi salah satu sarang korupsi yang hebat. Kebohongan telah berlanjut dan berlarut di penjara. Namun, yang menjadi lain dari soal sel mewah Artalyta kali ini adalah temuan itu terjadi dalam sidak oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, badan baru yang dibentuk untuk memerangi mafia yang membentengi korupsi. Satgas ini justru dibentuk untuk memberi bukti tentang keberanian memberantas. Kalau temuan ini kemudian dianggap dan ditanggapi sama saja dengan temuan-temuan sebelumnya, bubarkan saja satgas itu. Karena apa bedanya dengan temuan yang sama di penjara di waktu yang lalu?

Menteri Patrialis Akbar mengatakan bertanggung jawab atas temuan yang memalukan itu. Kita tunggu bagaimana bentuk tanggung jawab seorang Patrialis. Kalau rasa tanggung jawabnya sama saja dengan para menteri terdahulu, apa bedanya?

Posted by: marioindra | January 14, 2010

Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

November 12, 2009 4:16 am

Oleh : Rina Dewreight

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Posted by: marioindra | January 14, 2010

Century dan Borok di BI

Kamis, 14 Januari 2010

MATA publik kian terbuka setelah Pansus Hak Angket Bank Century bekerja lebih dari sebulan. Terbuka tidak hanya terhadap berbagai kejanggalan dalam kasus Bank Century, tapi lebih dari itu terbuka betapa amburadulnya lembaga bernama Bank Indonesia.

Pemanggilan pejabat dan mantan pejabat BI oleh Pansus Bank Century menjadi kunci yang membuka kebobrokan di tubuh bank sentral Indonesia itu. Bobrok tidak hanya segi perilaku pejabatnya, tapi juga buruk dalam sistem kerjanya.

Padahal, semula publik memandang BI sebagai lembaga bergengsi. BI, sejak reformasi, menjadi salah satu dari sedikit lembaga negara yang menikmati secara penuh otonomi. Gubernur BI tak lagi ditunjuk oleh Presiden, tapi dipilih oleh DPR lewat uji kepatutan dan kelayakan. BI tidak bisa dan tidak boleh diintervensi oleh lembaga lain.

Gengsi lembaga BI tidak sebatas itu. Sebagai jantung perekonomian Indonesia, para petinggi BI menikmati gaji yang amat tinggi. Mereka menerima gaji ratusan juta rupiah setiap bulan, di luar berbagai fasilitas dan insentif lainnya.

Karena itu, mereka yang duduk di jajaran petinggi BI berasal dari kalangan terbatas dan tentu saja mereka adalah orang-orang yang berkualitas.

Kapasitas dan profesionalitas pejabat BI tidak perlu diragukan lagi. Juga, sikap mental mereka sejatinya tak perlu disangsikan.

Namun, pandangan publik berbalik tiga ratus enam puluh derajat setelah sebulan menyaksikan pengadilan politik terhadap kasus Bank Century di Senayan. Bobot yang selayaknya disandang pejabat dari sebuah lembaga negara yang independen tidak terlihat sama sekali.

Tengok, misalnya, kesaksian para pejabat dan mantan pejabat BI di sidang Pansus Bank Century sejauh ini. Mereka saling silang pendapat dan saling lempar tanggung jawab. Bahkan, tidak jarang melimpahkan tanggung jawab ke pejabat di bawahnya.

Padahal, mereka sama-sama mengikuti rapat. Sama-sama membahas, bahkan lewat perdebatan panas, dan seharusnya sama-sama mengetahui hasil rapat.

Lebih dari itu, rapat-rapat baik menyangkut proses merger Bank Century maupun proses bailout, semuanya tercatat. Seandainya ada pejabat yang tak mengikuti rapat, toh mereka dilapori.

Jadi, tidak ada alasan untuk saling silang pendapat terhadap keputusan yang dihasilkan dari sebuah rapat. Bahwa prosesnya terjadi perdebatan sengit, tentu sesuatu yang wajar-wajar saja.

Pengadilan politik di Senayan juga memperlihatkan betapa faktor pengawasan menjadi titik amat lemah di BI. Rasionalitas publik jelas amat terganggu ketika sebuah bank kecil yang berkali-kali melakukan pelanggaran justru memperoleh fasilitas pinjaman jangka pendek, bahkan di-bailout.

Mekanisme pengawasan langsung dan tidak langsung, yang semestinya menjadi senjata ampuh BI untuk membedah bank bermasalah, sama sekali tidak dijalankan. Bahkan, akuntabilitas dan transparansi, yang diagung-agungkan BI, juga diabaikan dalam kasus Bank Century.

Sepertinya BI tidak belajar dari pengalaman kasus BLBI, cessie Bank Bali, aliran dana ke DPR, yang menyeret sejumlah pejabat BI ke bui. BI yang semula dipandang lembaga terhormat dan bermartabat, berubah menjadi lembaga sarang penyamun duit negara. Bank Century dijadikan piaraan untuk memuluskan nafsu para penyamun.

Para pejabat BI, seperti lembaga-lembaga korup lainnya, kerap melakukan kejahatan dengan berlindung di balik kebijakan. Selama prosedur dipenuhi, kejahatan dianggap sah.

Karena itu, sudah waktunya KPK melakukan penyadapan kepada para pentinggi BI agar borok di bank sentral itu tidak berubah menjadi penyakit yang mematikan.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.